<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-10251765</id><updated>2011-09-24T17:39:13.873+07:00</updated><title type='text'>Banani Bahrul-Hassan</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bananibahrul.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10251765/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bananibahrul.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Banani Bahrul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11906858142906089911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/270/3462/320/Img_0047.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10251765.post-111830204976848979</id><published>2005-05-31T14:20:00.000+07:00</published><updated>2005-06-09T19:48:58.466+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p&gt;Danarto:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sebaiknya Umat Islam Bereksperiman&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 13 Mei 2005, saat azan maghrib belum lama usai. Di ruang diskusi di toko buku QB World Book baru hadir beberapa orang. Diskusi buku memang belum dimulai. Tapi Danarto sudah datang. Kepada syir’ah, Danarto memang janji bertemu di acara itu. Dia tampak asyik menelilingi rak-demi-rak buku. “Saya barusan diwawancari oleh wartawan dari daerah,” ujar Danarto kepada Banani Bahrul-Hassan sambil melintasi rak buku menuju rak yang lain. Sesekali tangannya menyambar sebuah buku dan meniliknya. Danarto sempat menunjuk ke sebuah buku berjudul Abdacadabra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abracadabra adalah versi Inggris dari buku kumpulan cerpen Godlob, diterjemahkan oleh pengamat sastra Indonesia asal Australia, Harry Aveling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu Danarto mengenakan topi hitam. Baju koko berwarna putih dengan tiga buah pena berjejer miring terselip di antara dua kancing. Bagian khas yang lain dari Danarto adalah suara paraunya. Danarto, dikenal sebagai seorang sastrawan dengan karya-karya religius. Dia juga sosok multi profesi. Karena selain menulis cerpen dan novel, Danarto juga pernah menyutradarai teater, melukis, menyair, dan menjadi penata artistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa cerpen Danarto sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis dan Belanda. Kumpulan cerpen, Adam Ma'rifat, memenangi Hadiah Sastra 1982 Dewan Kesenian Jakarta, dan Hadiah Buku Utama 1982. Tentang cerpen-cerpen Danarto, Y.B. Mangunwijaya menulis, “Cerpen-cerpen Danarto adalah parabel- parabel religius, cerita-cerita kiasan kaum kebatinan, yang luar biasa dinamikanya dan daya imajinasinya. Tradisional, tetapi sekaligus kontemporer.” Kiprahnya di dunia seni memang sudah mendarah-daging. Bekas anggota inti Sanggarbambu ini pernah menjadi dosen Institut Kesenian Jakarta selama 11 tahun, dan wartawan majalah Zaman, 6 tahun. Pada 1983, ia menunaikan ibadat haji, dan menghasilkan sebuah laporan perjalanan yang kemudian diterbitkan PT Pustaka Grafitipers, Jakarta, Orang Jawa Naik Haji.&lt;br /&gt;Jauh sebelum Danarto naik haji, dia punya pengalaman keagamaan yang unik: shalat dalam bahasa Jawa. Padahal usianya saat itu sudah 27 tahun. Bahkan sampai sekarang, Danarto mengaku tak bisa mengaji. Dalam panjat doa dia kerap menggunakan bahasa Jawa. Baginya bahasa Jawa memiliki rasa bahasa yang tak bisa ditandingi oleh bahasa lain. “Karena saya orang Jawa tulen,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diskusi usai, sekitar pukul sembilan malam, Syir’ah berbincang dengan Danarto di lantai dua QB World Book, Pondok Indah, Jakarta Selatan. Berikut ini perbincangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Anda pernah shalat dengan bahasa Jawa. Bahasa yang dinilai ilegal dalam pandangan sebagian ulama dalam melaksanakan ritual shalat. Bisa Anda bercerita...&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dahulu ketika shalat dengan bahasa Jawa saya merasa kekurangan rasa bahasa. Saya asing terhadap bahasa selain Jawa, entah itu Arab, Inggris, bahkan bahasa Indonesia. Saya shalat dengan bahasa Jawa itu kira-kira satu minggu. Setelah itu saya memilih shalat yang standar, dengan bahasa Arab. Sampai sekarang pun kalau membaca sami’allâhu liman hamidah saya mengingat terjemahannya sama dengan gajah Hamidah. Sami’allâh itu sama; liman itu gajah (bahasa Jawa halus), midah itu nama cewek. Jadi terjemahannya kira-kira sama dengan gajah Hamidah. Nah, hal seperti itu tidak saya persoalkan lagi. Itulah kebesaran agama wahyu yang seharusnya saya mendengar dan patuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa komentar Anda ihwal shalat dua bahasa yang dilakoni Muhammad Yusman Roy?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan oleh kiai Roy menurut saya kontra produktif. Meskipun ulama juga tak perlu meributkan. Mestinya diikuti dulu sampai seberapa jauh kiai Roy ini. Jangan ada komentar-komentar, tapi didekati. Sehingga ketulusan hati akan muncul dengan lebih baik. Tapi memang kebiasaan kita selalu reaktif, tidak dengan pendekatan kasih sayang. Ada sebuah kisah tentang sikap Rasulullah saat beberapa sahabat hendak sweeping terhadap kitab-kitab agama lain. Rasulullah bilang jangan itu kitab wahyu. Jadi di sini saya kira menengok kepada sejarah apa yang pernah dilakukan oleh junjungan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa perbedaan antara shalat Anda dahulu kala dengan Yusman Roy?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya melakukan itu hanya untuk diri sendiri. Sedangkan kiai Roy dengan para jamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana memahami orang yang memiliki cara pandang yang berbeda terhadap ritual?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya ada ketulusan di situ. Tapi kontra produktif dan bertele-tele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Saat Anda shalat dengan bahasa Jawa, merasakan sentuhan kebahasaan yang berbeda ketimbang dengan bahasa Arab?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya memang betul-betul Jawa. Saya yang cuma mengenal rasa bahasa Jawa. Terkadang saya pun aneh dengan bahasa Indonesia. Pemahaman saya terhadap bahasa Jawa itu merasuk, sehingga mengetahui keindahan dari bahasa Jawa. Misal, sebelum kita membaca Al-Fatihah, ‘Duh, Gusti Allah mugi paduka nebihaken kaulo saking dosa, kados anggen paduko nebihaken antawis mlethek lan suruping suryo. Itu indah sekali. Artinya, ya Allah, semoga Engkau menjauhkan saya dari dosa, sebagaimana Engkau menjauhkan antara terbit dan tenggelamnya matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Doa dalam versi Arabnya bagaimana...&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;(Sesaat berupaya mengingat-ingat)&lt;br /&gt;O ya, allahumma ba’id bainî wa baina khothôyâyâ kamâ ba’adta bainal masyriqi wal maghrib. Allhumma naqqini min khothoyaya kama yunaqqa al-tsaubu al-tsaub-l-abyadh min al-danasi. Allhumma-g-silni min khothoyaya bi-l-ma, wa-l-tsalj, wa-l-barod. (Ya Allah, jauhkanlah jarak antara aku dan dosa-dosaku sebagaimana Engkau menjauhkan jarak antara timur dan barat. Ya Allah bersihkanlah aku dari segala dosa-dosaku sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari noda. Ya Allah, basuhlah dosa-dosaku dengan air, es dan embun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lebih merasa konek dengan Tuhan saat dengan bahasa yang mana?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya menyadari bahwa Tuhan memilih bahasa Arab. Alasannya pertama, ini kan wahyu dalam bahasa Arab, Jadi saya menerima dengan ikhlas. Kedua, mungkin Tuhan akan tersenyum ini orang kok bahasa Arabnya pletat-pletot tapi rajin amat shalat (tertawa). Saya percaya di Jawa punya banyak Nabi. Menurut Annemarie Schimel, Nabi itu berjumlah 24.000 dan Rasul 330. Dan di mana-mana sebetulnya ada Nabi. Di Jawa ada nabi yang bernama Sajjari, dia seorang nabi biasa yang tidak membawa kitab suci. Dia itu sulit dibuktikan, tapi dia ada dalam dunia sufi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apakah yang dilakukan Yusman Roy itu bertentangan dengan norma agama?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hemat saya yang penting shalatnya. Ribuan umat Islam diketahuk tidak shalat, atau shalatnya bolong-bolong. Sebaiknya kita tidak reaktif terhadap kemungkinan-kemungkinan berbeda dalam melaksanakan ritual shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masjidil haram, para imam tidak membaca basmalah, tapi langsung membaca al-hamdulillah dan seterusnya. Ini menjadi olok-olok jemaah Indonesia, karena tidak menyebut basmalah itulah bangsa Arab selalu kalah dalam perang melawan Israel. Saya punya pengalaman saat di Masjidil haram, ada yang cara bersedekapnya berbeda: kedua belah tangan berada di dada, atau berada di pusar, atau juga di samping kiri seolah-oleh memegangi pedang yang terselempang di kirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah itu perbedaan yang prinsipil, Yang pantas diperdebatkan? Tatacara sementara umat Islam kita banyak juga yang berbeda-beda. Misalnya, kita sering melihat seorang jemaah yang selalu kiblatnya bertumbukan dengan kepala kita karena kiblat dia menceng sekali dg kiblat kita. Diberi tahu bahwa masjid itu sendiri kiblatnya benar, dia tetap ngotot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa tafsiran Anda terhadap hadis Nabi ‘shalatlah seperti aku shalat’?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Secara substansial itu seperti Nabi. Dalam arti kata kekhusyukan dan ketulusan. Seorang keluarga eskimo yang shalat itu bisa saja duduk karena kalau dia berdiri nyundul iglo. Jadi bisa saja warga eskimo itu shalat sambil duduk, karena atap rumahnya rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Roy berdosa lantaran ulahnya itu?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya umat Islam bereksperimen. Jika eksperimentasi itu salah, nilainya satu. Jika bener nilainya dua. Jadi eksperimentasi itu menuju jalan tol yang lempang ke arah pembaharuan. Apalagi kita sudah hidup di milenium ke tiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa komentar Anda tentang sikap Majelis Ulama Indonesia terhadap Yusman Roy?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kita meributkan hal-hal yang tidak perlu. Para ulama itu mestinya membuka warung murah untuk tukang becak, petani. Itu lebih berguna dari pada ribut-ribut soal shalat dua bahasa, soal logo kaset. Karena sudah mentok dan stagnan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa yang menyebabkan itu...&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Karena tidak terbuka dalam menafsir ayat suci. Misalnya ayat Aku lebih dekat dari urat lehermu. Tak pernah dibahas. Dianggap berbahaya. Saya ingit sebuah puisi Abdul Hadi WM, ada kata ‘Tuhan aku begitu dekat’. Lalu ada ulama yang geleng-geleng kepala. Dulu di TIM, sekian tahun yg lalu. Loh memangnya berdosa dekat dengan Tuhan, memangnya berdosa menyatu dengan Tuhan. Tak ada ayat atau hadis yang mengatakan berdosa dekat atau menyatu dengan Tuhan. Justru ada hadis yang mengatakan jika Islam itu utuh maka tangan Tuhan menjadi tanganmu, kaki Tuhan menjadi kakimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ulama kita terlalu protektif?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Merasa paling baik menjaga umat tapi kecolongan. Umat mentok mereka tidak tahu. Mestinya umat didorong. Seperti kata slogan pendidikan kita, Tutwuri Handayani, membimbing dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pemahaman Anda dalam sufisme dikenal cukup baik. Itu dibuktikan dengan karya-karya yang mengandung nilai sufisme...&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya itu sudah belajar mistik sejak balita. Saya masih ingat diajak keluar oleh ayah saya, malam-malam, ditunjukkan ke arah sebuah pohon ada hitam yang sebesar apa bergentayangan. Ketika itu saya belum sekolah. Saya merasa habitat saya itu di mistik. Sebetulnya saya sangat ingin menjadi sutradara film. Dan tinggal selangkah namun tidak berhasil. Saya pernah membantu pembuatan layar lebar sebanyak empat kali. Tercegah terus. Tapi sebaliknya ketika saya bicara mistik sangat mudah. Dan dapat diterima. Ini ada pesan yang tersembunyi, inilah habitat saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1967, di Bandung, saya sebenarnya pernah mendengar bahwa ketika takbir itu sudah terbuka tak ada kekuatan yang menghalangi. Sehingga ada sufi yang terbang dari gunung ke gunung, terlempar ke genting, berguling-guling di tanah. Saat itu, bagi saya wantu yang amat genting sekali. Dalam pikiran saya, jangan-jangan saya terbang atau berguling-guling di jalanan. Setelah tersadar saya melihat, loh kok ada binatang yang Tuhan, pohon yang Tuhan, sopir yang Tuhan. Berarti bukan seperti yang saya bayangkan dalam cerita tadi. Saya mendapatkan yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa yang Anda rasakan?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya semakin mantap wahdatul wujud, semuanya wajah Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apakah pengalaman seperti itu dapat dijabarkan secara rasional?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sulit. Saat saya mengalami wajah-wajah Tuhan itu, seorang mahasiswa menulis kripsi dan memasukkan kata ‘binatang yang Tuhan’ sehingga menimbulkan konflik. Mestinya yang itu tidak usah disebut. Di sinilah saya memahami oh ini tidak boleh diceritakan. Biar saya bawa ke liang kubur. Tapi saya menilai, zamannya sudah berbeda. Dan saya merasa tidak hanya saya saja yang mengalami seperti ini, orang lain juga akan mengalami. Artinya tidak berbohong hati ini ketika merasakan Al-hallaj, Rumi, Ibn Arami, Abu Yazin Al-Bustami. Artinya setelah tahun 1967 itu, oh ini ternyata yang dicari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bisakah konsepsi sufisme dikaitkan dengan kejadian kontemporer?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pernah majalah Newsweek membuat laporan utama bahwa Tuhan itu bertahta di otak manusia. Itu cocok dengan ayat, aku lebih dekat dari urat lehermu. Jadi ini klop. Lalu tentang klonik yang di tentang oleh Bill Clinton dan mendiang Paus Yohannes Paulus II. Padahal itu sudah ada sejak zaman dahulu kala, ketika Allah mencabut tulang iga Adam untuk menjadikan Hawa. Lalu tentang para sufi yang menyatu dg Tuhan, kata Hallaj, dalam jubah saya ini tidak ada yang lain kecuali Allah. Lalu Abu Yazid Al-Bustami, Akulah Allah alangkah mahasucinya aku. Sebenarnya, sejak jauh hari, penyatuan Tuhan dg manusia itu serius, yang mengilhami filosof Eropa, seperti Nietze, Tuhan telah mati. Sebenarnya dia mengakui Tuhan itu ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa yang semestinya menjadi sikap kita saat saat terjadi bala bencana?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dunia ini memang tempat eksperimen Tuhan. Jadi kita manusia barang ciptaan Tuhan. Sederajat dengan binatang, tumbuh-tumbahan, alat-benda, apakah itu udara, tanah, api, air, atau pun zat. Tuhan sendiri kita namai zat yang maha suci. Jangan bereaksi, itu akan mempersulit diri sendiri. Seperti komputer yang sudah diprogram. Apalagi dalam Islam ada takdir, sebagai mutiara dalam agama Islam. Tuhan mengatakan, gue suka-suka gue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslim masih berkutat dalam simbol-simbol sehingga yang muncul itu reaksi bukan ilmu pengetahun. Saat Nietze berkata Tuhan telah mati, itu mestinya diterima sebagai ilmu pengetahun bukan diterima sebagai simbol lalu dengan mudah mengatakan dia murtad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Terjadi perbedaan radikal dalam diri Anda?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang disebut Islam kaffah, Islam yang menyeluruh. Apalagi kalau sudah menginjak sufisme, cara kita omong, berpakaian, makan, wudlu, shalat, menyapa orang itu harus menyatu karena setiap langkah bisa mengurangi kadar iman. Begitu salah kadarnya turun, begitu baik kadarnya naik. Inilah yang menyebabkan para sufi malas bergaul. Untuk mempertahankan kadarnya. Sehingga ada seorang sufi yang shalat terus, karena dia enggan lepas dengan Tuhan. Sehingga ketika diundang raja tidak mau, malah mengikat tubuhnya di tiang. Teriak tolong...tolong saya diundang makan malam raja...tolong.... Seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Paham seperti itu masih relevan di era sekarang. Adakah kontribusi bagi realitas?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kontribusinya besar. Bahwa jalankanlah agamamu secara utuh. Laksana kita melangkah di tempat licin kita terpeleset. Jadi oleh kita sendiri dirasakan. Dan dalam masyarakat modern paham seperti itu bisa tumbuh dan berkembang. Jadi sangat berguna.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nama :DanartoLahir :Sragen, Jawa Tengah, 27 Juni 1940Agama :IslamPendidikan :-SD, Sragen (1954)-SMP, Sragen (1958) -SMA, Solo (1958) -Akademi Seni Rupa Indonesia, Yogyakarta (1958-1961) Karir :-Anggota Grup Sanggar Bambu (1959-1964) -Karyawan Media Komunikasi, Taman Ismail Marzuki (1968-1974) -Pengajar Institut Kesenian Jakarta (1973-1984) -Redaktur Majalah Zaman (1979-1985)&lt;br /&gt;Publikasi:&lt;br /&gt;Kumpulan Cerpen&lt;br /&gt;-Godlob, 1975 -Adam Ma'rifat, 1982&lt;br /&gt;-Berhala, 1987&lt;br /&gt;-Gergasi, 1993&lt;br /&gt;Novel&lt;br /&gt;-Asmaraloka&lt;br /&gt;Buku Catatan Harian&lt;br /&gt;-Orang Jawa Naik Haji, 1983&lt;br /&gt;Esai&lt;br /&gt;-Gerak-Gerik Allah, 1996&lt;br /&gt;-Begitu ya Begitu tapi Mbok Jangan Begitu, 1996&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10251765-111830204976848979?l=bananibahrul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bananibahrul.blogspot.com/feeds/111830204976848979/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10251765&amp;postID=111830204976848979' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10251765/posts/default/111830204976848979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10251765/posts/default/111830204976848979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bananibahrul.blogspot.com/2005/05/danarto-sebaiknya-umat-islam.html' title=''/><author><name>Banani Bahrul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11906858142906089911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/270/3462/320/Img_0047.jpg'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10251765.post-111407264542675469</id><published>2005-04-21T15:32:00.000+07:00</published><updated>2005-04-21T15:37:25.436+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Ulil Abshar-Abdalla&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kita Ingin Islam Liberal Sampai ke Mushola&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;JARINGAN ISLAM LIBERAL, SEJAK EMPAT TAHUN KELAHIRANNYA, tak sepi dari kontroversi. Beberapa kalangan muslim menolak gagasan mereka. Berbagai komentar pedas mengarah kepada Jaringan Islam Liberal: caci-maki, pengkafiran, bahkan fatwa mati. Alasannya Islam Liberal keluar dari pakem keislaman, terlampau bebas menafsir hukum-hukum Islam. Namun, ada juga pihak yang menaruh simpatik, bahkan mendukung ide-ide Islam Liberal. Di sela-sela keduanya, ada yang mengambil posisi sebagai pengkritik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaringan Islam Liberal memperingati ulang tahun keempatnya pada 1-5 Maret lalu dengan menggelar beragam tema diskusi. Pada momen tersebut, Jaringan Islam Liberal menyediakan satu tema khusus untuk komentar dan kritik, menghadirkan Ismail Yusanto dari Hizbuttahrir Indonesia dan Jalaluddin Rakhmat, intelektual Islam asal Bandung. Bagi Ulil Abshar-Abdalla, koordinator Jaringan Islam Liberal, hujatan dan kritik itu menjadikan Jaringan Islam Liberal tahu akan kelemahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir Maret lalu, Banani Bahrul-Hassan dari Syir’ah mewawancarai Ulil Abshar-Abdalla, di kantor Freedom Institute, Jakarta. Ulil menjawab berbagai kritik maupun black campaign yang tertuju kepada Jaringan Islam Liberal atau pun kepada dia secara pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jaringan Islam Liberal, selama empat tahun sejak kelahirannya, ramai dengan hujatan dan kritik. Setidaknya dari tiga tidak kelompok: kalangan fundamentalis, kalangan kiai, dan dari sesama aktivis Islam progresif. Komentar Anda?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Semua hujatan dan kritik itu saya terima dengan positif. Bagi saya itu bagus dan dapat mempertajam argumen Islam Liberal yang selama ini ada. Dengan kritik itu, kita makin tahu kelemahan, tapi tidak mengubah posisi dasar Islam Liberal. Kalau kritik dari kalangan fundamentalis dan para kiai, termasuk kiai NU, bagi saya itu jelas, memang Islam Liberal memiliki paradigma keagamaan yang secara diametral bersebrangan dengan mereka. Islam Liberal memang menggunakan pendekatan yang tidak mereka sepakati, karena kita menggunakan pendekatan rasional dan kontekstual. Padahal paradigma semacam ini sudah ada dalam tradisi. Saya menduga begitu, tapi mungkin saya keliru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Islam Liberal juga dikritik karena gagasannya tidak dilandasi oleh tradisi keislaman yang telah mengakar...&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menganggap Islam Liberal terlalu berorientasi pada kemajuan ala Barat. Ide tentang kemajuan masyarakat terus melaju secara linier. Para filosof Barat menggambarkan gerak sejarah itu progresif: evolusi, masyarakat berburu, tribal, feodal, borjuis, terus sampai akhirnya berujung pada akhir sejarah. Teman-teman mungkin menilai gerak sejarah seperti itu tidak tepat, karena ada up and down. Dan sejarah Barat bukan sejarah yang diikuti oleh semua bangsa. Saya setuju. Saya tidak mengatakan gerak sejarah Barat mewakili seluruh gerak sejarah global. Menurut saya Barat pertikular, tapi jangan lupa dalam peradaban Barat ada unsur-unsur yang universal, yang tidak hanya milik mereka tapi semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kritik yang lain berbunyi, Islam Liberal tidak akrab dengan tradisi lokal dan tidak pernah bicara soal pribumisasi Islam di Indonesia. Bagaimana Anda menjawab ini?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Terhadap kritik ini jawaban saya ada dua hal. Memang Islam Liberal lahir sebagai respons terhadap gejala yang sifatnya global, radikalisme agama yang beriringan dengan munculnya modernitas. Kedua, ya menurut saya pembagian tugas karena tak mesti kita bicara semua isu. Jadi, Islam Liberal janganlah dikritik karena hal-hal yang tidak dilakukan, karena bukan kita mengabaikan. Saya setuju kebudayaan lokal itu penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ada yang menilai, dalam memahami hukum Islam, Jaringan Islam Liberal tak memiliki basis metodologis yang jelas...&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya sederhana metodelogi itu inplisit dalam pikiran. Kalau metodologi mengenai asas-asas pembahasan kita mengenai Islam itu ada. Dan itu tertulis secara terserak-serak di dalam tulisan yang selama ini dibuat oleh teman-teman Islam Liberal. Tapi menurut saya itu pelan-pelan. Bahkan beberapa pemikir yang menulis banyak hal, tentang beberapa ide, tidak sempat membuat sesuatu yang berkaitan dengan dasar pemikirannya. Nurcholish Madjid, apakah dia pernah menulis tentang metodologi pemikirannya sendiri. Bukan hanya itu, pemikir besar seperti Michael Foucoult, tidak pernah menulis metoda, tapi inplisit dalam buku dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa yang dilakukan Islam Liberal sebelum ulang tahun keempat awal Maret lalu?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kita mengadakan evaluasi intern menyangkut kelembagaan, ide-ide, dan pemasan ide. Banyak yang masih kurang, kita belum punya cukup kaki untuk menyebarkan ide. Sarana untuk menyebarkan ide terbatas hanya lewat Jawa Pos, radio, dan website. Itu kurang ideal, terlebih radio dan webseite sifatnya virtual. Mestinya punya sarana kongkrit di darat, menjelaskan ide-ide, misalnya mempunyai jaringan lebih baik di kalangan mahasiwa dan masyarakat. Tidak mudah melakukan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilema kaum intelektual adalah dia berada di antara dua tuntutan yang sulit didamaikan. Pertama, tuntutan memasarkan ide, membuat ide yang rumit menjadi mudah dipahami. Kedua, dia juga dituntut terus memperbaharui ide-idenya. Saya tak tahu harus bagaimana menghadapi dua tuntutan ini. Tapi sejauh ini kita tak sepenuhnya gagal karena target grup kita kalangan terdidik. Sejauh ini kita tidak punya asumsi menggaet khalayak umum, karena itu adalah cita-cita jangka panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa cita-cita jangka panjang itu?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Islam Liberal memiliki medium yang bisa dipakai oleh basis kemasyarakatan, seperti masjid dan mushola. Kalau ruang publik umat Islam belum berubah, masih dimonopoli oleh elit Islam tradisional atau kita tidak bisa mentransformasi ide-ide mereka lebih jauh, maka sulit. Tapi saya tak punya mimpi besar, Islam Liberal akan menjadi ormas Islam baru yang massif. Biarlah yang besar hanya dua: NU dan Muhammadiyah. Lebih baik kita menjadi pedagang ide yang kecil tapi lincah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sejauh mana urgensi sarana ibadah seperti masjid bagi penyebaran gagasan Islam Liberal?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Masjid sarana yang penting. Karena selama ini masjid dijadikan transmisi gagasan keagamaan yang kalau tidak radikal minimal konservatif. Tidak semua yang konservatif itu jelek. Kenapa masjid tidak menjadi arena transmisi menggetok-tularkan ide-ide yang maju dan kritis tentang agama. Saya punya impian juga membangun wadah pendidikan dari SD sampai universitas dan membangun lembaga riset yang kokoh. Kalau Islam yang liberal mau punya nafas panjang maka harus kuat di bidang riset. Riset membuat ide-ide kita selalu segar terus. Kita tak mungkin terus-menerus dagang ide tapi tidak kulakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Maksudnya?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ada pemikir-pemikir liberal yang hidup sendiri dan bergulat dengan buku, kalau pun bertemu dengan massa hanya sesekali saja. Tugas pokok dia adalah memproduksi gagasan, tanpa dibebani gagasan itu harus dipahami masyarakat. Itu sudah ada, seperti Nashr Hamid Abu Zayd, Mohammad Arkoun. Orang-orang seperti itu jangan dikritik elitis. Memang itu tugasnya, kita yang memasarkan ide dia. Kalau semua orang populis, siapa yang mengolah bumbu masakan di dapur. Dan koki-koki ide itu, sebagaimana koki-koki di restoran tidak bersentuhan dengan konsumen. Tinggal bagaimana kita mengambil ide mereka untuk dipasarkan. Nah, untuk Indonesia butuh koki yang mengerti konteks Indonesia. Sekurang-kurangnya, dapat mengolah ide yang datang dari luar ke dalam konteks Indonesia sebelum kita pasarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Islam Liberal juga sering dikritik sebagai antek asing. Anda berpikir tentang itu?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Soal basis pembiayaan memang krusial. Sebetulnya kita berusaha bisa dibiayai donatur domestik. Dalam jangka panjang kita ingin Islam Liberal sebagai gerakan yang lahir dari masyarakat Indonesia. Sementara saja kita menggantungkan ke donor asing. Kalau tak ada tidak membuat kita berhenti. Kritik itu harus dipertimbangkan serius. Saya tak menajiskan uang donor, karena dalam dunia yang sudah saling tergantung begini sudah lumrah membantu antar-negara. Gerakan semacam ini harus ada pembiayaan dari dalam negeri, melalui donatur domestik atau iuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDIDIKAN ULIL HAMPIR SELURUHNYA BERLATARBELAKANG agama dan pesantren. Tradisi kitab kuning hingga kini tak lepas dari dirinya. Bahkan di ruang kerjanya, tumpukan kitab kontemporer dan klasik berjajar dan bertumpuk. Dia mengaku lebih enjoy membaca kitab versi cetak daripada yang digital. “Baca kitab yang asli, bukan digital, itu luar biasa nikmat. Wangi aroma kertas itu wuh, dan mencari-cari halaman, membuka lembar demi lembar, bagi saya, seni tersendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulil tak pernah mempelajari bahasa Inggris secara formal. Bahasa Inggris dipelajarinya secara otodidak, sejak tahun 1997. “Saya sering dapat permintaan wawancara dari wartawan asing, ya saya mau tidak mau harus belajar.” Sebetulnya, kata dia, saya dipaksa oleh keadaan untuk bisa bicara dengan bahasa Inggris. Menurutnya, kelemahan intelektual Indonesia adalah kendala bahasa, padahal keilmuannya cukup mumpuni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 10 sampai 12 April 2005, Ulil menghadiri acara bertajuk U.S.-Islamic World Forum di Doha, Qatar. Pada forum itu dihadir oleh para pemimpin negara dan intelektual dari negara mayoritas berpenduduk Islam, termasuk Indonesia, dan beberapa negara Eropa. Rencananya setelah menghadiri forum, Ulil akan berkeliling ke beberapa negara seperti Syiria, Lebanon, Turkey. “Saya akan mengunjungi situs-situs purbakala, tempat bersejarah bagi umat Islam,” ujarnya. Untungnya Ulil kini punya hobi baru: fotografi. Dari kunjungan tersebut, dia berjanji akan membawa oleh-oleh foto dengan kualitas yang yahud.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dalam evaluasi internal, Anda pernah menghitung keberhasilan dan kegagalan selama ini?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Capaian selama ini yang kita puas adalah, salah satunya, membangun arus kesadaran keberagamaan baru. Hadirnya sosok keberagamaan baru menjadi pengimbang terhadap pola keberagamaan lain, yang sifatnya radikal. Kita merasa meskipun ini bukan semata-mata usaha Islam Liberal tapi juga usaha gotong royong teman-teman yang lain, berhasil mengcounter kampanye pelaksanaan syariat Islam. Kita berhasil mengajukan kritik, gagasan tandingan, konsep yang lain tentang syariat Islam. Perlahan-lahan isu syariat Islam tergembosi, meskipun masyarakat masih percaya terhadap syariat Islam itu. Kerugian fatalnya adalah, karena Islam Liberal berani melakukan kritik frontal maka menjadi sasaran black campaign yang luar biasa. Buat beberapa orang nama Jaringan Islam Liberal sudah menjadi najis, atau menyeramkan. Positifnya, karena black campaign itu, orang yang sebelumnya tak tahu Islam Liberal menjadi tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Yang cukup santer adalah fatwa mati dari Forum Ulama Umat Islam (FUUI) Bandung?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Semula saya menganggap biasa-biasa saja. Tapi lama-lama saya khawatir juga. Saya juga marah, karena itu bagian arogansi keberagamaan, karena dia merasa suci, paling Islam sendirian. Ketika itu saya katakan kepada berbagai media, kalau pun ada yang merasa terhina saya tidak menghina Islam tapi menghina pemahamannya tentang Islam. Jadi kalau Pak Athian (ketua FUUI—Red) menganggap saya menghina Islam, berarti dia menyamakan pandangan dia tentang Islam dengan Islam itu sendiri. Seolah-olah Islam itu hanya Islam yang dia pikirkan tidak ada dimensi-dimensi lain dalam Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Anda merasa tulisan itu provokatif?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya merasakan itu. Provokasi itu metode tapi substansi dalam tulisan itulah yang saya pikirkan. Kadang-kadang satu ide itu, kalau ingin disampaikan secara jelas, maka harus membuat ide itu sederhana. Dan kalau kebetulan ide yang sederhana itu berlawanan dengan ide yang umum maka otomatis provokatif. Provokasi hanya akibat saja, bukan sebab utama. Saya katakan berkali-kali, saya tidak bertujuan memprovokasi tapi saya ingin mengatakan ide dengan jelas, sederhana dan kebetulan ide yang sederhana itu berlawanan dengan ide orang banyak, maka akhirnya menjadi provokatif. Tapi provokasi tidak diniatkan sejak awal. Saya sama sekali tidak menduga reaksinya akan sedahsyat itu. Ancamannya macam-macam, bahkan sampai sekarang masih berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bisa Anda jelaskan asal usul lahirnya tulisan itu?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak salah artikel itu saya tulis pada bulan puasa. Pada saat itu, saya sedang berdebat keras dengan beberapa orang di milis (mailing list). Ibarat orang olah raga, saat itu saya dalam kondisi di puncak form permainan, panas sekali. Saat itu saya menulis. Sebetulnya tulisan itu ringkasan dari jawaban-jawaban saya terhadap sejumlah orang. Lalu saya buat semacam manifesto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa jurus Islam Liberal ke depan agar gagasannya dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kita ingin gagasan Islam Liberal sampai level mushola. Tentu ada hal-hal yang sulit dibicarakan kepada umat, tapi saya punya bayangan pemahaman minimal ala Islam liberal itu ada. Misalnya, meredefinisikan kembali apa itu iman dan Islam itu. Menurut saya, pendekatan rasional bisa kita pakai pada seluruh aspek dalam keberagamaan, mulai dari cara memahami iman. Saya berpikir, dalam jangka panjang kita perlu membuat suatu risalah tentang reorientasi shalat, karena itu basis ibadah yang paling penting dalam Islam. Reorientasi shalat dari segi hikmah dan tujuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lebih kongkret?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan sufistik mengenai shalat, menurut saya, jauh lebih tepat. Misalnya mengambil dari beberapa wawasan spiritualitas Timur, seperti dalam Buddhisme, Taoisme, New Age. Shalat dikaitkan dengan membangun pribadi yang sehat. Misal, meninjau shalat dari segi psikologi atau psikiatri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa yang akan dilakukan setelah ide Islam Liberal masuk sampai level mushola?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Salah satu yang saya incar adalah memasuki Islam dari beberapa hadis-hadis kunci, misalnya hadis cabang-cabang iman (syuab al-iman). Cabang iman itu misalnya anu, kalau tidak begitu maka imannya kurang sehat. Sudah lama saya punya keinginan ini, tapi belum ada kesempatan, masih banyak hal yang saya kerjakan. Selain itu, saya ingin melakukan sosialisasi hadis dalam kumpulan Hadis Arbain, ada Arbain Nawawiyah, dll. itu menurut saya hadis utama, yang di dalam Kristen Perjanjian Sepuluh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa yang menarik dari Hadis Arbain?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Misal, kenapa orang Islam melupakan hadis: istafti qolbaka, mintalah pendapat kepada dirimu sendiri. Sebetulnya Islam itu agama yang menekankan kemandirian penilaian berdasarkan apa yang Anda pikirkan. Tidak tergantung pada kata orang. Kalau sudah punya keyakinan itulah kebenaran. Tapi hadis ini jarang dikemukakan. Makanya, bagi saya, jalan agama secara fikih, bukan satu-satunya jalan. Ada jalan lain yaitu istafti qolbaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bukankah manusia punya hawa nafsu yang bisa mempengaruhi keputusan hati?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tugas kita adalah menjaga agar supaya hati itu tetap bersih. Sehingga akhirnya kita akan sampai pada penilaian yang bersih. Di situlah tugas agama yang semestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profil&lt;br /&gt;Lahir di Pati, Jawa Tengah, 11 Januari 1967. Menyelesaikan pendidikan menengahnya di Madrasah Mathali'ul Falah, Kajen, Pati, Jawa Tengah yang diasuh oleh KH. M. Ahmad Sahal Mahfudz (wakil Rois Am PBNU periode 1994‑1999). Pernah nyantri di Pesantren Mansajul 'Ulum, Cebolek, Kajen, Pati, serta Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang. Alumni Fakultas Syari'ah LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) Jakarta, dan pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara. Sekarang mengetuai Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Maya Manusia) Nahdlatul Ulama, Jakarta, sekaligus juga menjadi staf di Institut Studi Arus Informasi (ISAI), Jakarta, serta Direktur Program Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP). Ia juga tercatat sebagai Penasehat Ahli Harian Duta Masyarakat. Saat ini adalah Koordinator Jaringan Islam Liberal.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10251765-111407264542675469?l=bananibahrul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bananibahrul.blogspot.com/feeds/111407264542675469/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10251765&amp;postID=111407264542675469' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10251765/posts/default/111407264542675469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10251765/posts/default/111407264542675469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bananibahrul.blogspot.com/2005/04/ulil-abshar-abdalla-kita-ingin-islam.html' title=''/><author><name>Banani Bahrul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11906858142906089911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/270/3462/320/Img_0047.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10251765.post-111036042587704790</id><published>2005-03-09T16:19:00.000+07:00</published><updated>2005-03-14T12:21:39.056+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Iman Kepada Hantu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Oleh &lt;strong&gt;Said Aqil Siradj&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;PAK SAID YANG SAYA HORMATI. Tayangan makhluk halus di stasiun televisi tiga tahun terakhir kian marak. Dari tayangan itu pemirsa dapat melihat makhluk halus yang ditangkap oleh kamera infra merah, bahkan bisa dilukis. Di antara makhluk itu sebut saja jenis Kuntilanak, Gandarwa, dll. Bahkan dari kiai yang menjelaskan di akhir acara sering diungkapkan, mereka itu adalah makhluk gaib ciptaan Tuhan. Dari situ saya bingung, katanya makhluk gaib tapi kok bisa dilihat oleh manusia. Lalu apakah keberadaan makhluk tersebut juga harus kita imani sebagaimana mengimani alam gaib lain seperti malaikat, misalnya. Atas penjelasan Bapak saya ucapkan terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suherman&lt;br /&gt;Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAUDARA SUHERMAN, ANDA BETUL akhir ini yang dikategorikan gaib semakin mendapatkan perhatian sebagian masyarakat. Pertanyaan Anda ini pun wujud kegelisahan terhadap hal-hal yang bersifat gaib. Bagi umat Islam sebenarnya perkara gaib bukanlah sesuatu yang istimewa dan baru. Ia ada jauh sebelum manusia diciptakan. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika kita merujuk kepada doktrin teologi Asyariyah, maka kita mengenal konsep enam pilar keimanan. Dari enam pilar tersebut, empat di antaranya merupakan perkara gaib, sedangkan dua sisanya bersentuhan dengan kegaiban. Berjuta-juta lembar argumentasi telah ditulis serasional mungkin oleh para teolog untuk meyakinkan umat manusia bahwa selain perkara yang kasat mata sesungguhnya terdapat perkara gaib yang harus kita yakini keberadaannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebelum kita membincang persoalan keimanan dari sisi tasawuf, saya merasa perlu mengingatkan kembali bahwa dalam teologi Islam sering dipaparkan bahwa Tuhan sangat terusik dan marah apabila ada mahkluk-Nya yang menyekutukan-Nya. Manusia dituntut untuk mengimani kegaiban dalam kerangka kekuasaan Tuhan. Apapun bentuk kegaiban serta spesifikasinya merupakan makhluk Tuhan. Karena itu seseorang yang memercayai perkara gaib yang berdiri sendiri dan tidak mempunyai korelasi dengan Tuhan dikategorikan sebagai orang musyrik (memercayai ada Tuhan selain Allah). &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selanjutnya saya lebih tertarik menjelaskan kegaiban dari sisi tasawuf. Sebab cukup sulit menjelaskan perkara gaib dari sisi teologi. Argumentasi kaum mutakallimin alias teolog sering tidak tuntas bahkan justru menambah persoalan baru. Sisi kelemahan argumentasi mereka dalam persoalan ini adalah memosisikan nalar sebagai panglima dalam memecahkan persoalan yang bersifat immateri. Padahal manusia cenderung berkutat pada persoalan yang bersifat materi. Artinya, manusia memang mempunyai keterbatasan, yaitu kelemahan dan kesukaran untuk mengetahui hal-hal yang bersifat immateri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika kita mengakui keterbatasan nalar dalam hal-hal yang bersifat immateri maka kita tidak dapat memaksa nalar untuk memberikan jawaban yang cukup komprehensif atas eksistensi kegaiban. Allah, malaikat, hari akhir, jin, setan, surga, neraka, dan lainnya merupakan gugusan ‘sesuatu’ yang bersifat immateri dan nyata eksistensinya sebagaimana dikabarkan al-Quran, “Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib” (al-Baqarah: 2-3). &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena sesuatu yang bersifat immateri itu tidak mungkin dinalar maka ia harus diimani. Iman dalam konteks ini tidak sebatas apa yang terkonseptualisasikan oleh kaum mutakallimin. Maksud iman di sini adalah pengetahuan hati akan kebenaran. Maka iman berkorelasi dengan qalb dan itu berarti menggunakan pendekatan tasawuf. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengapa qalb? Karena “qalb”—sebagaimana perkara gaib—merupakan wujud ruhani, metafisik dan bukan benda. “Qalb” bukanlah segumpal daging yang terdapat dalam tubuh manusia. Pemaknaaan “qalb” lebih tertuju pada suatu “ruhani”. Di dalam ruhanilah tersimpan ide-ide kebaikan dan universalitas yang tidak berhubungan dengan keadaan tubuh atau jasmani. Kemudian qalb mengkualifikasikan keberimanannya terhadap perkara gaib untuk memberikan batasan-batasan atas keragaman ‘sesuatu’ yang immateri tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mari kita telusuri komponen-komponen qalb, pertama, apa yang disebut “bashirah” atau ‘mata hati’ (eye of heart). Allah berfirman, ”manusia perlu menatapi dirinya dengan mata hatinya” (QS. al-Qiyamah: 14). Bashirah itu kemampuan hati untuk memilah-milah; baik dan buruk. Ketika seseorang dapat menilai bahwa mencuri itu perbuatan buruk berarti bashirahnya mempunyai kualitas iman. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kedua, “dhamir” atau ‘moral’. Dhamir itu memotivasi hati untuk melakukan kebaikan. Manusia yang menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang amoral berarti hatinya telah mempunyai kualitas iman. Ketiga, fu’ad, yaitu hakim hati yang menentukan perilaku manusia. Fu’ad adalah kebenaran perilaku manusia. Seseorang yang mampu mengembangkan potensi fu’ad tidak akan terjerumus dalam kemunkaran, “fu’ad tidak akan membohongi terhadap apa yang dilihatnya” (al-Najm: 11). Keempat, al-sirr, yaitu potensi hati untuk melakukan kontrol terhadap perilaku manusia. Al-Sirr yang telah teroptimalisasikan akan mampu mengarahkan segala perbuatan manusia kepada kebaikan. Kelima, latha’if, yaitu kelembutan batin yang bertingkat-tingkat atau berjenjang (maqamat). Setiap tingkatan yang ada merupakan salah satu pengalaman yang muncul karena terjadinya pertemuan spiritual dengan Allah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika kondisi hati manusia seperti di atas maka semua perkara gaib harus diimani dan masing-masing perkara gaib mempunyai tempat sendiri-sendiri. Iman kepada Allah adalah pembenaran hati bahwa Allah adalah zhahiri, nyata (tidak lagi batini) yang pembuktiannya melalui maqam ma’rifat sebagai wujud dari optimalisasi latha’if. Beriman atas keberadaan jin, setan, dan lainnya adalah pembenaran hati bahwa setan, jin, selalu menghembuskan keraguan atas bashirah manusia yang telah memberikan kejelasan baik dan buruk. Begitu seterusnya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Idealnya, keimanan seseorang itu mampu menyeimbangkan dua unsur; materi dan immateri yang ada dalam dirinya. Hanya saja selama ini keimanan sering diartikan sebagai proses rasionalisasi sesuatu yang bersifat immateri. Dalam dunia sufi, keimanan tidak hanya sebatas vonis ‘sesat’, ‘kafir’, dan sebagainya. Keimanan juga mengandung keindahan, mahabbah, ekstase antara Khaliq dan makhluq-nya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Walhasil, bagi dunia sufi, dikotomi zhahir dan ghaib hanyalah pandangan sekilas dan semu. Seorang sufi laksana puncak gunung es yang tampak dalam dunia kasat mata sekaligus memiliki aspek dunia yang terselubung dan tersembunyi. Ia memahami dengan baik hukum-hukum kausal dan kehidupan yang bersifat fisik sekaligus meresapi untuk meningkatkan kesadarannya terhadap “Realitas” sebelah dalam yang “Maha Luas”. Kehidupannya telah meliputi dunia yang diketahui maupun tidak serta menggabungkan realitas yang tampak dengan yang tidak tampak dan dunia yang beruang berwaktu dengan dunia yang tidak beruang dan berwaktu. Sebagaimana sinyalemen al-Ghazali bahwa dalam tahap tertentu seorang sufi telah menemukan bahwa yang lahiri ternyata batini dan yang batini ternyata sangat lahiri. Kondisi inilah yang disebut dengan ma’rifat, yaitu puncak kebenaran yang diperoleh oleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10251765-111036042587704790?l=bananibahrul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bananibahrul.blogspot.com/feeds/111036042587704790/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10251765&amp;postID=111036042587704790' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10251765/posts/default/111036042587704790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10251765/posts/default/111036042587704790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bananibahrul.blogspot.com/2005/03/iman-kepada-hantu-oleh-said-aqil.html' title=''/><author><name>Banani Bahrul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11906858142906089911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/270/3462/320/Img_0047.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10251765.post-110958898894169347</id><published>2005-02-28T18:03:00.000+07:00</published><updated>2005-03-09T16:39:06.486+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Anand Krishna:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Al-Quran itu Ensiklopedia&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SERANGKAI KALIMAT TERDENGAR LANDAI dari arah sang mursyid. ‘Haq Maujud...Sada Maujud...Sada Maujud...Sada Maujud....” Belasan kepala yang tertunduk dengan kedua tangan menyilang di dada sontak melafalkan kalimat serupa. Mereka tengah berdoa atas nama kebenaran. Karena arti kalimat ‘Haq Maujud’ adalah ‘Jayalah Kebenaran’, dan ‘Sada Maujud’ bermakna ‘Jayalah Selamanya’. Jayalah kebenaran, jayalah selamanya. Tak lama kemudian alunan musik terdengar nyaring memecah hening, seraya Anand Krishna, sang mursyid itu berseru, “Silahkan yang ingin menari, menarilah.” Beberapa orang mulai berdiri, berputar pada poros kaki, berlawanan arah putaran jarum jam. Semula jumlah penari bisa dihitung jari, sejurus kemudian, penari bertambah dan terus bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang di antara mereka trance dan jatuh terbaring sebelum tarian usai. Setelah kurang lebih 30 menit, Anand Krishna berseru kepada para penari yang masih berputar laksana gasing, “Jatuhkan diri kalian sambil menjatuhkan ego...jatuhkan angkara murka, jatuhkan kebencian, jatuhkan segala hal negatif. Daur ulang kebencian menjadi cinta.” Anand, lalu meminta muridnya merenung, sambil berdoa: jernihkan pikiran kami, ya Allah, ya Rabb, agar kami bisa melihat wajah-Mu di mana-mana. Setelah keheningan menyelimuti untuk sesaat, seruan kembali terdengar, “Bangkitlah, kini bangkitlah sebagai manusia baru.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah penggalan adegan acara pesta sufi atau ‘Sufi Mehfil’ yang berlangsung di padepokan Anand Ashram, 11 September lalu. Di padepokan yang terletak di wilayah Gadog Ciawi Bogor, Jawa Barat itu Anand Krishna memusatkan kegiatan spiritual, selain di kediamannya di bilangan Sunter, Jakarta Utara. Padepokan itu kerap digunakan kegiatan agama dan sosial. Sebelum digelar Sufi Mehfil, misalnya, berlangsung diskusi HIV/AIDS yang dihadiri aktivis sosial Baby Jim Aditya dan seorang epidemi Faraj bin Fu’ad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anand Krishna dikenal masyarakat Indonesia sejak tahun 1990-an. Karya-karyanya sudah bertebaran. Pada tahun 2000 saja, Anand sudah melahirkan 38 buku. Sebut saja buku bejudul, 99 Nama Allah bagi Orang Modern, Membuka Pintu Hati: Surah Al-Fatihah bagi Orang Modern, Telaga Pencerahan di Tengah Gurun Kehidupan: Apresiasi Spiritual terhadap Taurat, Injil, dan Al Quran, Islam Esoteris: Kemuliaan dan Keindahannya serta Isa: Hidup &amp; Ajaran Sang Mahisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku tersebut sempat mengundang polemik, bahkan pihak Gramedia, sebagai penerbit, sempat menarik buku tersebut dari pasaran. Namun setelah Anand Krishna mengunjungi orang-orang yang tak setuju, Gramedia pun memasarkan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum memimpin ritual Sufi Mehfil, Anand Krishna menerima Banani Bahrul-Hassan dari syir’ah berbincang-bincang seputar kekerasan atas nama agama dan makna fitrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ramadan adalah bulan penuh kasih (rahmat), namun sebulan menjelang bulan suci terjadi ledakan bom. Adakah solusi yang dapat dijadikan terapi membasmi mentalitas teroris? &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ada dua macam solusi. Pertama, jangka pendek, dengan memberi shock-therapy kepada mereka yang terlanjur percaya tindakan itu dibenarkan oleh agama. Shock-therapy bisa dengan pemberian hukuman mati kepada pelaku. Kedua, solusi permanen, melalui jalur pendidikan. Saya punya cerita, beberapa bulan lalu saya berada di Bali, bertemu dengan seorang jurnalis yang ditempatkan di Bali. Dia bercerita tentang anaknya yang duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK). Suatu hari, saat si anak baru pulang dari sekolah tiba-tiba berkata kepada dia: sekarang saya tidak mau main bersama anak-anak lain, karena mereka pemakan babi dan kafir. Jurnalis tadi kelas terkaget-kaget. Ini anak TK dan pelajaran seperti itu diberikan di Bali. Daerah yang pernah terjadi peristiwa pengeboman. Hemat saya, seolah ada konspirasi menciptakan zombi-zombi hidup. Maka jalan keluarnya adalah revitalisasi sektor pendidikan. Pendidikan kita harus diperbaharui. Agar tak lahir kembali orang yang berani bunuh diri atas nama agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana andil pendidikan agama di sekolah, bisakah memenuhi kebutuhan pendidikan damai yang diharapkan?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan agama di sekolah harus dihapus. Karena pendidikan agama menjadi kewajiban orangtua bukan kewajiban guru atau ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bukankah kita butuh seorang yang lebih paham tentang agama, ustad atau ulama...&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Agama Islam, sejauh pengetahuan saya, tidak memosisikan ulama sebagai panutan sentral dalam menjalankan doktrin, dan bukan pemegang otoritas mutlak. Kini, umat menjadikan ulama sebagai perantara, segala sesuatu harus ada fatwa, harus tanya ke ustad. Dan fatwa tersebut seolah wajib diikuti. Padahal Al-Quran membenarkan seorang muslim untuk ijtihad atau mencari makna sendiri. Dalam beribadah pun Islam membenarkan hubungan langsung dengan Tuhan. Dan itu menjadi kekuatan Islam. Kenapa Islam dapat diterima di Indonesia? Zaman dahulu, Hindu dan Buddha menjadi agama para petinggi. Lihat Perambanan, arca kecil sekali, yang bisa ibadah di tempat itu empat sampai lima orang, hanya cukup untuk keluarga raja. Sementara rakyat duduk di bawah. Ada perbedaan kelas yang luar biasa. Kemudian Islam menghapus kelas itu. Dalam Islam, beribadah tak mengenal perbedaan, imam berdiri ke arah yang sama dengan makmum. Tidak ada yang lebih tinggi antara Imam dan makmun. Itu kelebihan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wah, ternyata anda banyak mempelajari Islam...&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Saya menganggap diri sebagai siswa sejarah. Menurut saya, kita harus belajar dari pengalaman masa lalu dan jangan mengulang kesalahan yang sama. Selama mengulangi kesalahan yang sama kita tidak akan maju sebagai satu komunitas manusia. Selalu berperang atas nama agama. Bayangkan, selama 2000 tahun terakhir terjadi perang atas nama agama sebanyak 3000 kali. Bahkan sampai sekarang pun masih terjadi, seperti di Irlandia dan India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Aksi kekerasan bagi kelompok teraniaya adalah salah satu pengamalan ajaran agama. Dalam Islam misalnya, ada seruan untuk membalas ketika diserang...&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Memang Al-Quran berujar demikian, tetapi ingat, yang utama di mata Allah adalah sabar. Kalimat itu terlupakan. Al-Quran itu ensiklopedia, ada untuk anak TK ada juga untuk mahasiswa. Boleh balas-membalas ada hukum qisas, tapi dalam ayat yang sama ada anjuran sabar, bagian itu selalu terlupakan. Kenapa memilih level TK dan SD, kenapa tidak yang mahasiswa. Kadang kita lupa Al-Quran rahmat bagi seluruh alam semesta. Makanya Al-Quran pun mengakomodasi orang yang radikal. Lalu, selama sekian tahun setelah Al-Quran turun, kenapa kita tidak mau mencapai tingkat ideal sebagai suatu pencapaian tertinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANAND KRISHNA LAHIR DARI KELUARGA yang tidak menganut salah satu agama. Sebuah kisah melatarbelakangi prinsip itu. Orangtua Anand berasal dari Sind, sebuah provinsi yang kini berada di Pakistan, dulu termasuk wilayah India. Setelah Pakistan lahir pada 1947, orangtua Anand pulang--saat itu Anand belum lahir. Saat tiba di Sind, melihat keluarga besar terpecah belah lantaran berbeda agama. Mereka tinggal dalam satu rumah besar, ada yang Islam, Hindu, Sikh (agama terbesar ketiga di Pakistan). Orangtua Anand muak dengan keadaan itu, dan memutuskan tidak tinggal di Pakistan tidak juga di India, tapi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anand kecil dan saudara kandung diberi pendidikan kebebasan beragama oleh sang ayah. Di rumahnya ada kaligrafi bertulis Allah dan Muhammad, ada salib ada arca Hindu dan Buddha. Semua sejajar. Anand memang sempat tinggal di India sejak beranjak remaja. Ketika berada di India, oleh orangtuanya Anand diajak ke Lucknow, sebuah kota peradaban Islam di India. Di sana Anand bertemu dengan teman-teman yang beragama Islam. Di sana Anand bertemu gurunya yang pertama. Dia mencampur antara tarekat Naqsyabandi dan Chistiyah, tapi latihan yang diberikan justru tarekat Maulawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sebenarnya orangtua dan kakek anda beragama Islam?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Sind, kalau ditanya, 78% mereka tidak akan mengaku Hindu atau Islam, mereka pasti mengaku Sufi. Benazir Butho misalnya, dalam otobiografinya, dia mengatakan dirinya orang sufi, bukan muslim bukan juga hindu. Padahal kita tahu dia adalah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Secara verbal anda berkata sufi sebagai agama, atau agama kasih. Tapi mungkin ada kebenaran yang anda percaya sebagai kebenaran di atas kebenaran-benenaran lain?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kasih adalah generiknya agama. Labelnya boleh Islam, Hindu, Buddha, dan apa saja. Ketika bicara kasih, kita bicara spiritualitas. Ketika bicara spiritualitas harus lintas nama dan lintas wujud. Saya tidak mengatakan wujud harus ditinggalkan. Kita hidup dalam satu masyarkat. Analoginya, ketika mau keluar rumah untuk berjalan jauh kita butuh mobil, tapi ketika masuk ke dalam ruang mobil jangan dibawa masuk. Ada keadaan dalam perjalanan spiritual seseorang wujud-wujud itu harus dilepas. Kalau tidak, dia tak mencapai yang tertinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bukankah para sufi Islam seperti Jalaluddin Rumi tidak melepas keislamannya, jangan-jangan ungkapan tadi terjebak pada universalisasi yang membabi buta...&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin bercerita tentang seorang qadhi (hakim), bernama Mullah Nashiruddin. Dalam sebuah persidangan seorang terdakwa menyatakan pembelaan, bukan begitu tapi begini dan begini. Mullah berkata: kamu benar. Lalu penuntut mengatakan, bukan begitu tapi begini. Mullah berkata: ya kamu benar. Asistennya berkata: Mullah, masak semuanya benar, pasti ada yang salah di antara keduanya? Mullah menjawab: ya mungkin kamu juga benar. Itu sekadar perumpamaan. Kebenaran itu memiliki sekian banyak sisi. Kita tidak bisa memonopoli kebenaran. Kita tidak tahu, Mahabenar Allah. Kita betul-betul tidak tahu, apakah yang kita ucapkan betul atau tidak. Mungkin ada orang bawa mobil sampai pelataran dan merasa sudah sampai ke tujuan. Mungkin ada orang yang sudah masuk di dalam rumah, tapi di dalam rumah ada ruangan pribadi lagi. Kita berada di mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lalu bagaimana menuju kepada kebenaran tersebut?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ketika sedang menuju kepada kebenaran harus memilih satu sisi. Saya tidak bisa mengagungkan semua sisi dan menuju kebenaran melalui semua sisi. Saya pribadi yakin, kalau ada enam miliar manusia mestinya ada enam miliar tarikat. Setiap orang itu menuju melalui sisinya. Jadi kalau ada sekian banyak tarekat, sekte itulah rahmat Allah. Kita melihat persatuan dalam perbedaan. Dan itulah tauhid. Kalau tidak ada yang berbeda di mana kita bisa merasakan ketauhidan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ada orang yang merasa tidak menemukan kebenaran pada agamanya lalu pindah agama. Idealkah cara itu?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya kira harus dijelaskan. Soal agama yang dipeluk itulah jalan yang sudah ditempuh selama sekian tahun. Sekarang kalau melepas agama dan pindah ke agama lain, harus mulai dari nol lagi. Dari pada itu, lebih baik menggali di satu tempat sampai mendalam. Yakinlah, kalau kita tekun menggali di satu tempat akan mendapatkan kebenaran di tempat itu. Semua agama mengandung kebenaran. Kalau dalam agama tidak ada benenaran agama itu akan punah. Tapi sampai sekarang agama-agama belum punah. Jadi galilah melalui agama masing-masing, atau kalau ada orang yang menggali tanpa agama bagi saya tidak masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Setiap agama memiliki simbol keagamaan. Hindu dan Buddha dengan arca, Kristen dengan salib. Jika diamati Islam tidak terlalu banyak simbol. Apa peran simbol dalam mempengaruhi spirit keagamaan?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Simbolisasi dalam Islam dibilang minim juga tidak. Kaligrafi itu simbol. Kalau kita betul-betul berpikir jernih tentang Ka’bah, itu simbol. Setiap lima waktu dalam sehari umat Islam berkiblat ke sana. Bentuk simbolnya memang berbeda-beda. Di India ada bentuk-bentuk tulisan sebagai simbol, orang Hindu di sana tidak suka patung atau arca. Dalam Islam, beberapa tarekat membenarkan pemasangan foto-foto guru mereka. Simbol bisa dijadikan sebagai wasilah, dalam pengertian membangkitkan gairah. Bagi seseorang yang percaya suatu simbol bisa mengingatkan kehadiran Allah, banyak hal negatif yang tidak akan dilakukan. Simbol dipercaya sebagai bukti kehadiran Allah bukan target pemujaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Anda tadi berkisah tentang pengalaman masa remaja dengan teman-teman beragama Islam. Punya pengalaman melewati Ramadan bersama mereka?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Selama bertahun-tahun mendalami tarekat Maulawi, saat masih remaja 12-13 tahun di Lacknow. Kita semua yang ikut tarekat itu berpuasa, setelah berbuka dan salat bersama, kita suka menari dengan tarian sufi itu. Buka puasanya dengan kurma dan bukan kurma dari Arab karena di sana sangat mudah menemukan kurma. Setelah makan beberapa butir dan minum air kemudian menari, bisa 2-3 jam, setelah itu jatuh tertidur. Kadang tidak terbangun lagi sampai subuh dan tidak sempat sahur. Jadi bisa 2-3 hari berturut-turut tidak sahur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa bagi saya, begitu dekat dengan Tuhan, menyadari kehadiran Allah sehingga lupa makan. Kita sekarang berpuasa dari pagi sampai sore yang dipikirkan justru makanan. Begitu buka puasa, meja lebih ramai daripada hari-hari biasa, seolah balas dendam, sepanjang hari tidak makan. Kita hanya menunda jadual saja. Saya kira dengan cara itu kita tidak bisa mendekatkan diri dengan Tuhan. Kita hanya melakukan kewajiban agama saja dan itu bagus, tetapi tidak bisa kembali ke fitrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Apa makna fitrah yang sejatinya?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Fitrah adalah kesucian. Dengan fitrah kita kembali pada kesucian, keluguan, dan kejujuran seorang anak. Fitrah macam itulah yang harus kita capai. Bukan kekanak-kanakan tapi mempertahankan kepolosan dan keluguan. Dalam bahasa Persia, Arab, ada istilah yang luar biasa yaitu tobah, kemudian diterjemahkan menjadi taubat. Kalau kita lihat asal usulnya, dalam bahasa Persia atau dalam bahasa Sindi, taubat itu kembali. Ketika dalam bahasa Aram dan diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani menjadi metanoya. Metanoya juga sama kembali. Kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Nasrani sebagai pengakuan dosa. Intinya sama taubat, metanoya, pengakuan dosa sama, istilah awalnya mungkin tobah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dalam tradisi Islam kefitrahan dapat dicapai dengan maat memaafkan biasanya dengan mempererat tali silaturahmi...&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ya, kontribusi terbesar dalam Islam itu istilah silaturrahmi. Kita cuma menggunakan istilah itu tanpa memahami. Rahmi itu kan dari ra-ha-ma, kalau kita menjalin hubungan cinta dengan semua orang maka kehidupan akan sangat indah. Dulu, waktu saya belajar Islam pernah mendengar sebuah ungkapan Al-Quran, bahwa kalau kamu mendatangi tamu atau siapa pun ucapkan terlebih dahulu salam. Kalau pun berkunjung ke rumah musuh ucapkan salam. Konsep salam itu damai. Dan itulah silaturrahmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Anda sangat dekat dengan komunitas Islam sejak remaja, pernahkan anda mengidentitaskan diri sebagai seorang muslim?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Guru pertama saya orang muslim, lahir dalam keluarga Islam. Dia mengatakan, yang bisa memberikan fatwa muslim adalah Allah. Orang di dunia tidak bisa memberikan fatwa itu karena yang tahu keislaman itu hanya Allah. Dan sebelum perpisahan, guru saya membuat janji, jangan sekali-kali menyatakan dirimu sebagai muslim. Biarlah Tuhan yang menentukan, biarlah masyarakat yang menentukan kamu muslim atau tidak. Akhlak kamu islami atau tidak. Jadi kalau anda berkesimpulan saya berakhlak islami, dan mengatakan saya muslim, saya mengucap alhamdulillah dan terima kasih. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;majalah syir'ah, wawancara, november 2004&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10251765-110958898894169347?l=bananibahrul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bananibahrul.blogspot.com/feeds/110958898894169347/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10251765&amp;postID=110958898894169347' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10251765/posts/default/110958898894169347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10251765/posts/default/110958898894169347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bananibahrul.blogspot.com/2005/02/anand-krishna-al-quran-itu.html' title=''/><author><name>Banani Bahrul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11906858142906089911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/270/3462/320/Img_0047.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10251765.post-110775752081829357</id><published>2005-02-07T13:24:00.000+07:00</published><updated>2005-02-07T13:25:20.816+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;Untuk Esti di Aceh&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Agus Sopian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aceh telah jadi lumpur. Dan engkau bertanya, “Tuhan manakah yang baru saja memarahi Aceh?” Menurutmu, di Aceh tak hanya ada umat Islam, tapi juga Kristen, Buddha dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku, Esti. Engkau tak akan mendapatkan jawaban dariku. Bukan saja aku tak punya hubungan langsung dengan Tuhan sebagaimana para nabi, tapi aku meyakini satu hal tentang Tuhan: bahwa Dia tak punya sifat-sifat jelek. Apalagi maha-pemarah hingga merasa perlu meluluhlantakkan Aceh. Bahkan neraka, penampungan akhir dari segala kebrengsekan di dunia yang terbayangkan oleh benak kita, bagiku bukanlah nous pathetikos bahwa Tuhan maha-buruk dalam mengatur keadilan. Neraka diciptakan mungkin agar kita punya pilihan, dan hidup jadi berwarna. Tanpa pilihan, rasanya dunia akan monoton dan membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang aku mendengar kisah tentang Laut Mati sebagai sisa azab Tuhan. Di sana, dulunya konon berdiri kota Sodom, tempat para homo pesta seks. Luth benci mereka. Sebaliknya, mereka benci Luth yang dianggapnya usil. Luth sendirian. Terpojok. Tak berdaya. Mungkin juga putus asa. Kepada Tuhan, Luth memanjatkan doa agar kaumnya diberi peringatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Nietzsche membaca kisah itu sebelum menuliskan konsep keadilannya? Wallahualam, tapi Nietzsche tak suka dengan apa yang disebutnya “keadilan dingin.” Berkata Nietzsche, “Apabila ketidakadilan menimpa dirimu, maka segera lakukan lima ketidakadilan kecil yang lain.” Membalas musuh dengan kebaikan hanya akan membuatnya malu. “Sedikit balas dendam akan terasa lebih manusiawi daripada tanpa balas dendam sama sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa Luth mendapatkan “lima keadilan kecil yang lain” dari Tuhan. Kepada mereka, Tuhan telah mengirimkan gempa, kemudian air bah. Luth sendiri dikisahkan sedih melihat azab itu. Tapi apa boleh buat, kota Sodom telah karam berganti lautan. Yang tak kupahami, kenapa Tuhan ditafsirkan marah di sana. Tuhan hanya mengabulkan doa seorang yang dikasihinya. Seperti ini pula barangkali yang dilakukan Tuhan saat mendengar doa Nuh yang letih menghadapi kaumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengekspresikan Tuhan maha-pemarah, yang kemudian menjadi akar providensialisme dari suatu bencana (semua adalah takdir Tuhan), mungkin pada akhirnya hanya akan membawa kita ke mitologi itu juga: Banjir besar Deukalion, yang tetap dibaca hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muasalnya adalah Zeus yang bersaing tanpa henti dengan Prometeus untuk merebut hati manusia. Zeus, dewa tertinggi tempat manusia menghaturkan segala sembah, tersudut lesu di medan persaingan. Ia malu, kecewa dan sakit hati. Kombinasi perasaan ini adalah benih yang sempurna untuk tumbuhnya rasa muak dan marah tanpa batas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kekalutan, Zeus mencari akal untuk menang. Ia mengirimkan Pandora, sesosok dewi cantik yang menyimpan semua pesona kahyangan. Pesona Grasia yang glamor, Athena yang modis, Horae yang harum, dan Afrodite, sang dewi cinta, yang sanggup meruntuhkan hati pria mana pun di muka bumi. Misi Dewi Pandora tidak banyak: merayu Epimeteus, saudara Prometeus, agar makin dekat ke sebuah kotak rahasia. Zeus tahu, hanya dengan membuka kotak itulah dirinya akan menutup perang terakhir dengan kegemilangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus berhasil. Saat Dewi Pandora membuka kotak itu, berbagai lengkingan menyeramkan segera terdengar, bersamaan dengan munculnya wajah-wajah mengerikan. Mereka adalah makhluk-makhluk penguasa kelaparan, kebencian, dendam, kegilaan, kekejian dan makhluk-makhluk lain sumber semua kebatilan. Terkejut oleh apa yang dilihatnya, sang dewi segera menutup kotak, dan justru itulah yang membuat dunia makin merana. Satu-satunya makhluk yang dapat mengatasi semua masalah, tetap tinggal di kotak. Makhluk itu bernama harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia yang kini telah sakit, gila, keji, lapar, penuh kebencian dan kekejian, jadi alasan Zeus untuk meletupkan gunung kemarahannya. Dia mengirimkan banjir besar. Hanya Deukalion, istri dan anak-anaknya yang selamat. Merekalah yang melanjutkan kehidupan di muka bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esti, Tuhan bukanlah Zeus, yang temperamental dan mau mengorbankan apa saja demi sebuah kemenangan. Tuhan tak sekeji itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, ketimbang dipaksakan masuk ke garis teologis, rasanya lebih adil menempatkan bencana Aceh sebagai pengetahuan epistemologis: bahwa dunia ini tak hanya berisikan manusia, laut, gunung, pohon, rumah, ayam, lintah, politisi, kecoak. Tapi juga gempa, kelaparan, kekeringan, gelombang panas, sekaligus tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan ribu tahun silam, tsunami telah ada dan membinasakan kehidupan di tempat yang kini jadi Samudra Atlantik Utara. Lima ribu tahun sesudahnya, tsunami menenggelamkan daratan di sekitar gunung Santorini. Yunani dan Pulau Kreta yang dulunya bersatu, kini terpisah lautan. Semuanya masih jadi debat keilmuan. Namun, teks agama punya jawaban untuk menjelaskan apa yang tak bisa dicapai oleh metode pencarian kebenaran fungsional. Yahudi, Kristen dan Islam, misalnya, telah mengevokasikan bencana dahsyat itu sebagai banjir Nuh. Latar kisah “Banjir Besar Deukalion” mungkin juga berasal dari sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah seperti apa tsunami Aceh dikisahkan ribuan tahun kelak. Tsunami Aceh jauh lebih ganas dari tsunami-tsunami lain dalam seratus tahun terakhir ini. Sejak hari terkutuk itu, ratusan kampung berantakan dan tiba-tiba saja menghilang dari peta. Banyak kepala desa yang kehilangan jabatannya. Bukan dilengserkan orang, tapi memang karena tak punya lagi desa. Begitu juga camat dan bupati. Bencana ini mengerikan. Seratus ribu jiwa lebih terkubur, dan mereka yang selamat hanya berjarak tipis dengan maut baru: malaria, kolera, disentri, dan frustasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esti, aku akan mengingat pertanyaanmu, tapi tak akan mencatatnya. Buku harianku hanya untuk para sukarelawan, termasuk engkau. Sisanya, mencatat para keparat yang membiarkan Aceh tetap sekarat, dan memilih terus berdebat tanpa memahami apa sesungguhnya yang dimaksud situasi darurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Sopian, wakil ketua Yayasan Pantau, Jakarta.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10251765-110775752081829357?l=bananibahrul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bananibahrul.blogspot.com/feeds/110775752081829357/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10251765&amp;postID=110775752081829357' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10251765/posts/default/110775752081829357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10251765/posts/default/110775752081829357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bananibahrul.blogspot.com/2005/02/untuk-esti-di-aceh-oleh-agus-sopian.html' title=''/><author><name>Banani Bahrul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11906858142906089911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/270/3462/320/Img_0047.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10251765.post-110775695551315501</id><published>2005-02-07T13:10:00.000+07:00</published><updated>2005-02-07T13:18:25.310+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Jaket Calon Jenazah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Suatu petang di Jalan MT Haryono, Jakarta Selatan. Roni berdiri di bawah pohon tak jauh dari jembatan penyeberangan jalan. Menunggu bus kota. Kala itu Desember 2004 menginjak hari ketujuh. Saya berdiri semeter di sebelah kiri Roni.&lt;br /&gt;Saya dan Roni terikat obrolan lantaran ulah pengendara motor. Ups, ini bukan soal cara pengendara mengemudikan motornya yang ugal-ugalan. Tapi karena jaket yang dia pakai. Jaket hitam itu tertulis di bagian punggung “Calon Jenazah”. Busyet…, mungkin itu komentar orang yang baru melihat jaket itu. Tapi Roni, tidak berkata demikian. Dia tak kaget tapi salut.&lt;br /&gt;“Hebat juga die, hanya dengan jaket bisa (melakukan) kampanye penyadaran teologis,” ucap Roni dengan lentong Betawinya. Ujaran itulah yang membuat saya ingin berkenalan dengan dia. Kami bertegur sapa, saling bertanya nama. Roni melanjutkan gerundelannya tentang jaket si pengendara. “Semoga orang-orang yang melihat jaket itu sadar bahwa kita manusia adalah calon jenazah,” ceplos Roni enteng.&lt;br /&gt;Saya bertanya kepada Roni. “Abang yakin orang akan tersentuh hatinya saat menoleh ke arah bacaan tadi?” Roni berharap demikian. Dia terus nyerocos bak seorang sufi yang meratapi kehidupan manusia era kini. Menurut pendapat dia, zaman sekarang orang semakin sibuk dengan urusan duniawi hingga lupa Tuhan, abai batas usia.&lt;br /&gt;Saya meneruskan pertanyaan. “Bang Roni yakin si pengendara tadi betul-betul sadar akan kematian?”&lt;br /&gt;“Inilah Bang…,” kata Roni, “Ane khawatir jangan-jangan tuh orang cuma ingin tampil beda. Supaya dilihat keren oleh orang.” Wah, ujar Roni kemudian, kalo niatnya kayak gitu boro-boro kampanye teologis, malah bisa-bisa nyumpahin diri sendiri cepet mati. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;BANANI BAHRUL-HASSAN&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10251765-110775695551315501?l=bananibahrul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bananibahrul.blogspot.com/feeds/110775695551315501/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10251765&amp;postID=110775695551315501' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10251765/posts/default/110775695551315501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10251765/posts/default/110775695551315501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bananibahrul.blogspot.com/2005/02/jaket-calon-jenazah-suatu-petang-di.html' title=''/><author><name>Banani Bahrul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11906858142906089911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/270/3462/320/Img_0047.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10251765.post-110724008727149069</id><published>2005-02-01T13:39:00.000+07:00</published><updated>2005-02-07T13:22:18.536+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mohamed Faizeen&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Allah dalam Foto Satelit&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragedi tsunami memang menyita perhatian masyarakat dunia. Selain aspek kosmis, perdebatan yang cukup meriah adalah seputar ketuhanan. Apakah ini ulah Tuhan? Kalau ya, apa alasan Tuhan menghukum sekejam ini? Dua pertanyaan ini akan menyulut kontroversi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kontroversi itu memang terjadi. Di Sri Lanka, masyarakat muslim setempat percaya, tsunami adalah azab Tuhan. Mau bukti? Mohamed Faizeen, ketua Centre for Islamic Studies, Sri Lanka berujar, sebuah satelit merekam gambar dua detik setelah tsunami menghantam wilayah Kalkuta, sebelah selatan Ibu Kota Sri Lanka, Kolombo. Foto tersebut diambil pada 26 Desember 2004, pukul 10.20 pagi waktu setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Secara jelas badai itu membentuk formasi lafad Allah dalam huruf Arab,” kata Faizeen sebagaimana dikutip religionnewsblog.com. Faizeen mempersilakan masyarakat membuka situs ‘Allah signed His nama’. Memang, situs globalsecurity.org memuat tahapan demi tahapan gambar pantai Kalkuta itu. “Ini jelas sebuah kutukan Tuhan, tsunami dikirim untuk umat yang melalaikan aturan-Nya,” kata Faizeen. Seperti muslim lain, Faizeen pun menyamakan tragedi tsunami ini dengan peristiwa banjir pada masa Nabi Nuh.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Anda boleh percaya atau menampik foto satelit Digital Globe sekaligus ucapan Faizeen. Yang pasti, tsunami nan mematikan itu sungguh terjadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10251765-110724008727149069?l=bananibahrul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bananibahrul.blogspot.com/feeds/110724008727149069/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10251765&amp;postID=110724008727149069' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10251765/posts/default/110724008727149069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10251765/posts/default/110724008727149069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bananibahrul.blogspot.com/2005/02/mohamed-faizeen-allah-dalam-foto.html' title=''/><author><name>Banani Bahrul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11906858142906089911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/270/3462/320/Img_0047.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10251765.post-110612751921511847</id><published>2005-01-19T16:33:00.000+07:00</published><updated>2005-02-07T13:33:40.930+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:100%;color:#000000;"&gt;Prof Judith Ann Nagata (Antropolog York University, Kanada):&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;Universalisme Dua Wajah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita kebangsaan Kanada yang lanjut usia itu masih semangat. Meski tampak letih, setelah menghadiri seminar di Universitas Indonesia, Depok, sejak pagi hingga lepas siang, Judith Ann Nagata memenuhi janji berbincang dengan syir’ah, sore 9 Desember di sebuah kafe di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antropolog Universitas York Kanada ini datang ke Indonesia selama 5-12 Desember menghadiri berbagai seminar. Di Jakarta, Nagata menjadi pembicara di International Conference on the Future of Islam, Democracy and Authoritarianism in the Muslim World, disponsori International Center for Islam and Pluralisme (ICIP) Jakarta. Di Yogyakarta, Nagata menghadiri acara Interdisciplinary Conference on the Idea(l) of an Indonesian Islamic University: Contemporary Perspectives di Yogyakarta. Dia juga memberikan kuliah umum di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nagata adalah sosok ‘seeker’ (pencari) tentang agama-agama. Nagata mengatakan, awalnya dia menganut Kristen, “Kini saya cenderung ke Buddhisme. Tapi saya menghormati semua agama, agar dapat pengetahuan tentang agama-agama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitiannya tentang agama dan multikulturalisme tak terbilang jari. Di antaranya, 1967 sampai 1968, Nagata telah meneliti relasi etnik di dua kota di Malaysia. Pada 1979 sampai 1980, riset tentang gerakan kebangkitan Islam di Malaysia dan implikasi terhadap hubungan etnisitas dan kesadaran kelas. Riset tentang Islam, Buddhisme, dan kekristenan di Malaysia dilakukan pada 1990-2001. Dari telusurannya itu, Nagata ingin tahu relasi agama tersebut dengan politik identitas etnis, jaringan agama sejagat, kebangkitan religius, konversi, dan fundamentalisme. Setelah menyantap sajian kafe, Mujtaba Hamdi dan Banani Bahrul-Hassan berdialog dengan Prof Nagata seputar agama, universalitas, multikulturalisme, dan terorisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sudah hampir empat dekade Anda melakukan riset tentang etnis dan agama di Asia Tenggara. Bagaimana kondisinya secara ringkas…&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kalau di Malaysia, orang non-Islam memang sebagai minoritas dari segi hak-hak mereka, seperti persoalan ekonomi. Di Thailand dan Filipina ada minoritas. Muslim di sana memang bukan mayoritas. Beragam masalah yang tak terkait dengan agama telah lama hadir seperti masalah taraf hidup dan hukum. Tragedi Narathiwat, Thailand Selatan, menjadi masalah baru yang terkait dengan agama. Kalau dulu hanya sekitar masalah tanah, tidak tentang agama. Sulit meramal apa yang akan terjadi setelah peristiwa yang sarat dengan nuansa keagamaan ini. Tapi sebetulnya itu juga bermula dari soal ekonomi dan relasi kuasa antara muslim Patani dengan Pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, persoalan mayoritas-minoritas sering menjadi isu sensitif. Dalam amatan Anda, bisakah di negara-negara tersebut seluruh masyarakatnya memiliki kesadaran pluralisme dan multikulturalisme seperti Kanada, misalnya?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Di Kanada tidak ada minoritas secara resmi. Pendatang dari Prancis, Inggris, Cina semua berkedudukan sama. Meskipun kebudayaan beragam tapi mereka recognize difference, menerima perbedaan. Sehingga dari segi politik, kedudukan mereka sebagai warga negara sama. Tidak ada pluralisme di Malaysia, di sana pluralitas diasingkan. Tapi untungnya, di Malaysia militer tidak kuat, berbeda dengan Thailand, Filipina, atau Indonesia. Jadi kalau ada persoalan Malaysia tidak menggunakan kekuatan militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;O ya, Malaysia memiliki Internal Security Act (ISA), aturan yang memberi kekewenangan kepada pemerintah untuk menahan seseorang atau kelompok yang dianggap membahayakan keselamatan negara tanpa melalui proses pengadilan. Dengan ISA, apakah Malaysia menjadikan itu penikam kelompok lain yang berbeda?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Memang dengan ISA Malaysia bisa ‘menenggelamkan’ kelompok yang anti-pemerintah, termasuk dari kalangan agama dan orang-orang luar Malaysia yang dianggap membahayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kami ingat peristiwa 1 Agustus 2001 silam. Salah seorang warga negara Malaysia, Taufik bin Abdul Halim, bernama samaran Dany, terlibat aksi pemboman Atrium Senen. Tentu dengan rekan-rekannya yang orang Indonesia. Nah, dari sini ada pihak yang mengaitkan terorisme dengan kalangan Islam fundamentalis. Bagaimana pandangan Anda tentang hal tersebut…&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Saya tidak setuju memparalelkan terorisme dengan Islam. Pihak yang berkata demikian kurang pengetahuan tentang Islam. Menurut saya, kurang tepat jika fundamentalisme hanya disematkan kepada sebuah agama karena sekelompok pemeluknya melakukan tindakan berdasar atas fundamentalisme itu sendiri. Karena fundamentalisme tak hanya ada di dalam komunitas Islam, tapi juga ada di Kristen, Buddha, Katolik, Hindu, Yahudi, maupun Sikh. Munculnya fundamentalisme, khususnya fundamentalisme agama, tak hanya dipengaruhi oleh penafsiran atas teks suci yang mereka miliki tetapi juga terkait erat dengan sebuah kebijakan sebuah pemerintah di mana sejumlah komunitas agama tersebut hidup di suatu masyarakat atau negara yang begitu plural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Prof, bisakah Anda memberi komentar tentang prinsip universalisme yang dianut oleh sebagian kalangan Islam. Bagi mereka, agama Islam memiliki universalisme doktrin yang semuanya harus tunduk kepada universalisme Islam, termasuk universalisme hak asasi manusia.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ya memang, bagi kalangan fundamentalisme, universalisme Islam itu tidak sama dengan universalisme hak asasi manusia. Dari prinsip seperti ini, ada dua aliran hukum yang tidak bisa dipertemukan. Orang fundamentalis ingin, siapapun dan di negara manapun, universalisme Islam bisa diberlakukan. Tapi menurut saya, sebenarnya universalisme itu tidak wujud. Universalisme diimplementasikan di tingkat negara masing-masing bukan di level internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana kalau universalisme Islam berakibat pada peminggiran etnis lokal. Bagaimana pemerintah memfasilitasi kedua kelompok ini…&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada konflik antara keduanya, negara harus bisa mengatur, tapi catatannya tidak dengan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ada satu soal. Sebetulnya ini masalah klasik, tentang pencantuman agama dalam kartu tanda penduduk. Bagi orang yang masih bersikukuh dengan agama tetua mereka, harus turut aturan tersebut.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kalau di negara sekular seperti di Eropa atau Amerika tidak perlu karena merujuk ke hak asasi manusia. Di sana agama dianggap perkara individu. Tapi di Asia berbeda, agama menjadi bagian penting untuk mengidentifikasi warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Anda sering meneliti berbagai etnis dan agama, pernah ada yang bertanya tentang identitas agama Anda?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya terlahir sebagai Kristen. Sekarang saya cenderung ke arah Buddhisme. Itu dipengaruhi oleh pengalaman selama di Malaysia bergaul dengan orang Tionghoa beragama Buddha. Tapi saya menghormati semua agama agar dapat pengetahuan tentag agama-agama. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10251765-110612751921511847?l=bananibahrul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bananibahrul.blogspot.com/feeds/110612751921511847/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10251765&amp;postID=110612751921511847' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10251765/posts/default/110612751921511847'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10251765/posts/default/110612751921511847'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bananibahrul.blogspot.com/2005/01/prof-judith-ann-nagata-antropolog-york.html' title=''/><author><name>Banani Bahrul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11906858142906089911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/270/3462/320/Img_0047.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10251765.post-110775824009891195</id><published>2005-01-07T13:34:00.000+07:00</published><updated>2005-02-07T13:37:20.100+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;Saat Santri Bicara Hermeunetik&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dulu santri hanya kenal tafsir dan takwil. Kini mereka pun paham istilah baru: hermeunetik.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Langit Donohudan siang itu sedikit berselimut awan hitam. Di dalam masjid Al-Mabrur, ratusan orang bersarung, setelah shalat zuhur, mengambil posisi duduk bersila menghadap utara. Mereka, para peserta sidang kaji masalah tematik pada Muktamar ke-31 Nahdlatul Ulama (NU). Di saf paling depan, seorang santri usia tigapuluhan tekun menyimak empat orang pimpinan sidang. Sebuah kitab karya intelektual Mesir, Said Ramdhan Al-Buthi, tergeletak tak jauh dari tempat ia duduk.&lt;br /&gt;Jarum jam menunjuk ke arah angka satu. Panitia membuka forum. Secara aklamasi, para peserta mendaulat Said Aqil Siradj sebagai pemegang palu sidang. Dari parasnya, Muchib Aman Aly, si santri itu, tampak tak melewatkan sepatah kata pun dari paparan Said Aqil Siradj. Kata pembuka dirangkai rais syuriah PBNU itu. Bahasan pertama sidang adalah tentang metode hermeunetik. Sebuah pertanyaan yang hendak dijawab oleh forum itu ialah, bolehkah metode hermenetik dijadikan alat untuk mengartikan Al-Quran?&lt;br /&gt;Dalam Islam, kata Said, metode hermeunetik dikenal dengan istilah takwil. Takwil artinya, mengalihkan lafazh (kata) dari arti yang tampak kepada makna yang dalam dan jauh. Said sedikit mendongeng, mengurai asal-usul kata hermeunetika. Tuturannya terbang ke abad purba. “Hermeunetika sebenarnya berasal dari nama seorang yang sangat dimitoskan oleh masyarakat Yunani: Hormus, atau Hirmis, atau Harmas,” kata Said. Seluruh peserta terlihat mendengar saksama, termasuk Muchib.&lt;br /&gt;“Qîla (konon), dia (si Hormus) adalah nabiyullah Idris AS,” Said melanjutkan, tanpa menyebut rujukan, ada juga pendapat bukan Idris tapi rajulun azhim alias pemikir besar yang hidup pada masa Firaun di Mesir. Pendapat lain Hormus adalah pemikir besar yang hidup di masa Babilonia, kini Irak. Apa keistimewaan Hormus? Hormus, tutur Said, sosok yang bisa mengartikan kehidupan, mampu menakwil rahasia hidup ini. Perantara yang gaib dan zahir, yang universal dan parsial. “Saya punya kitab yang berisi dawuh atau ucapan-ucapannya, tapi tak terbawa,” ucapnya.&lt;br /&gt;Paparan itu bukan sumber tunggal dalam forum itu. Di tangan peserta sidang sudah tersebar makalah tentang hermeunetika. Penulisnya, ya dia itu, santri bernama Muchib Aman Aly. Dalam makalah 5 halaman itu, Muchib menjelaskan. Hermeunetik berasal dari akar kata bahasa Yunani hermeneui, artinya ‘menafsirkan’. Hermenetik diasosiasikan kepada Hermes, seorang utusan dewa dalam mitologi Yunani Kuno. Tugas Hermes menyampaikan dan menerjemahkan pesan dewata yang masih samar ke dalam bahasa yang dipahami manusia.&lt;br /&gt;Muchib, yang juga kemenakan KH Muhammad Subadar, pengasuh pesantren Raudlatul Ulum Pasuruan, menulis, istilah hermeunetik sebagai usaha teolog Yahudi dan Kristen dalam mengkaji ulang secara kritis teks-teks dalam kitab suci mereka yang mencari nilai kebenaran Bible. Muchib mempertanyakan mengapa para teolog itu mencari nilai kebenaran melalui metoda ini. Dengan yakin Muchib menjawab, mereka memiliki sejumlah masalah dengan teks-teks dalam kitab suci mereka. Para teolog mempertanyakan apakah secara harfiah Bible bisa dianggap firman Tuhan atau sabda manusia.&lt;br /&gt;Apa pasal? Muchib menjelaskan lebih jauh lagi. Adanya perbedaan gaya dan kosa kata yang ditemukan pada berbagai pengarang Bible. Perbedaan itulah, tulis Muchib, yang menyebabkan Bible tak bisa disebut firman Tuhan. “Itulah sebab para teolog Kristen memerlukan hermeunetika untuk memahami kalam Tuhan yang sebenarnya,” tandas Muchib super-yakin.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makalah itu punya andil besar dalam perdebatan di sidang tersebut. Saat sesi unjuk tanggapan dibuka acungan tangan tak berbilang. Mereka berlomba-lomba mengurai pendapat. Berbagai argumen yang mayoritas menolak itu diutarakan tidak meledak-ledak. Ada beberapa pendapat yang punya kemiripan dengan makalah Muchib. Hanya beberapa orang yang berpendapat menerima hermeunetika sebagai metode menafsir Al-Quran. Muchib bergeming dan menyimak setiap ujaran peserta lain. Perdebatan makin seru saat pimpinan sidang tampak berada dalam blok pro hermenetika. Kontan saja, yang tak setuju makin menjadi-jadi. Muchib mulai berusaha mengangkat tangan ke udara.&lt;br /&gt;Waktu shalat Asar nyaris tiba. Kata sepakat belum kunjung didapat. Perdebatan antara peserta dan pimpinan sidang. Menurut Machasin, pimpinan sidang yang juga dosen UIN Sunan Kalijaga, kalau sidang ingin menerima atau menolak harus dengan ilmu. “Jangan sampai menolak hermeunetik karena tidak tahu. Atau kita menerima karena tidak tahu juga. Itu tidak baik,” kata Machasin, bijak.&lt;br /&gt;“Lebih baik kita tawaqquf (menunda keputusan-Red) dan mempelajari terlebih dahulu seluk-beluk hermeunetika,” ujar Machasin. Pendapat Said Aqil Siradj idem dito. Suasana mulai gaduh. Pimpinan sidang mengusulkan menunda keputusan. Puluhan peserta berdiri dan berebut bicara. Saat itu, meski berdiri dengan lutut, tangan kanan Muchib mengacung ke arah pimpinan sidang, bukan ke langit-langit masjid. Suaranya memekik, “Tidak setuju... tidak setuju....”&lt;br /&gt;Akhirnya pimpinan manut suara peserta sidang: hermenetik ditolak sebagai alat menafsirkan Al-Quran. Palu sidang diketuk tiga kali: tok, tok, tok. Sidang diskor. Azan Asar berkumandang.&lt;br /&gt;Debat tentang hermeunetik usai? Ternyata tidak. Di sela-sela azan itulah Machasin berdebat dengan Muchib Aman Aly--entah siapa yang dahulu memulai. Machasin berupaya memberi pemahaman kepada Muchib tentang hermeunetik. Tapi sia-sia belaka. Saat debat itulah Muchib membuncahkan yang tertulis di makalah.&lt;br /&gt;Keduanya silang pendapat.&lt;br /&gt;“Secara epistimologis, hermeunetik tidak sesuai dengan Al-Quran. Saya sudah baca konsep hermeunetika Gadamer, juga pemikir muslim seperti Nasr Hamid Abu Zayd, Muhammad Arkoun dan sebagainya. Perbedaan tafsir, takwil, dan hermeunetika itu jauh, Pak,” ujar Muchib berargumen.&lt;br /&gt;“Sebetulnya banyak hal dari hermeunetik yang belum diketahui. Ambil contoh, misalnya kata-kata al-shomad dalam Al-Quran. Apakah pemahaman kita tentang kata itu sudah benar. Itulah hermeunetika ingin bertanya, apakah dulu saat Al-Quran turun kata shomad seperti yang kita pahami sekarang. Nah, kalau tadi ada yang membawa hermeunetik pada teori pengambilan hukum, itu salah,” balas Machasin.&lt;br /&gt;“Secara epistimologi metoda hermenetika tidak bisa sama dengan metoda takwil,” ulang Muchib.&lt;br /&gt;“Kenapa?”&lt;br /&gt;“Karena takwil dan tafsir dibangun atas lafazh, metode semantik. Sedangkan hermeunetika dibangun atas teori akal.”&lt;br /&gt;“Oh, tidak. Hermeunetika menggunakan banyak instrumen: semantik, sejarah, filsafat.”&lt;br /&gt;“Kita sudah punya metoda tafsir dan takwil yang sudah mapan dan sudah ada ulumul-quran. Lebih mapan daripada metoda hermeunetika.”&lt;br /&gt;“Saya melihatnya berbeda. Justru dengan hermeunetika pemahaman saya terhadap Al-Quran bertambah.”&lt;br /&gt;“Bapak pakai teori hermeunetikanya siapa, Gadamer, Schleiermacher, atau siapa?.”&lt;br /&gt;“Kita menggabungkan antara analisis semantik, sejarah...”&lt;br /&gt;“Itu dalam al-Thabari sudah ada. Semua sudah tercakup dalam persyaratan-persyaratan tafsir.”&lt;br /&gt;“Al-Thabari analisis historisnya tidak sampai pada makna apa yang berkembang di zaman itu. Saya juga baca kitab al-Thabari. Jadi jangan kita tolak atau terima. Tadi saya lihat memanfaatkan suara yang keras untuk menindas suara yang lunak. Ini tidak baik.”&lt;br /&gt;“Tadikan sudah ada, beberapa. Menurut saya, sebelum digelar sidang harus ada diskusi awal, pengantar sidang secara umum.”&lt;br /&gt;“Ini sudah lewat. Untuk ke depan, hal seperti ini kurang baik. Karena pendapat mayoritas, mungkin benar, mungkin tidak benar mengalahkan pendapat minoritas yang juga mungkin benar juga mungkin tidak benar. Sebetulnya kalau belum setuju semua akan lebih arif mauquf,” saran Machasin. &lt;br /&gt;Gadamer, filsuf asal Jerman bernama lengkap Hans Georg Gadamer lahir pada 1900 dan wafat 2002. Sedang Schleiermacher bernama panjang Friedrich Ernst Daniel Schleiermacher (1768-1834), pendeta dan filsuf kebangsaan Jerman. Dia salah satu orang berpengaruh di gereja Protestan sepanjang abad 19. Schleiermacher lahir pada 21 November 1768, di Breslau, Lower Silesia (sekarang Wrocław, Polandia). Pada 1787 di kuliah di University of Halle, tempat dia belajar filsafat Aristotes dan Immanuel Kant. Al-Thabari, penafsir kelahiran 224 dan wafat 310 hijriyah. Karya termasyhur penafsir bernama asli Abu Ja’far Muhammad bin Jarir adalah Tafsir Al-Thabari.&lt;br /&gt;Muchib dan Machasin usai berdebat. Muchib yang alumnus Pesantren Lirboyo, Kediri, itu sangat bersyukur metode hermeunetik gagal disahkan oleh komisi kaji masalah tematik. Karena dalam hemat Muchib hermeunetika adalah pondasi pemikiran liberal di kalangan intelektual Islam. Ya, memang di sidang penghujung November itu hermeunetika ditolak tapi di sekolah tinggi Islam hermenetika tetap dipelajari, dikaji, dan mungkin terus diminati. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;BANANI BAHRUL-HASSAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10251765-110775824009891195?l=bananibahrul.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bananibahrul.blogspot.com/feeds/110775824009891195/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10251765&amp;postID=110775824009891195' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10251765/posts/default/110775824009891195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10251765/posts/default/110775824009891195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bananibahrul.blogspot.com/2005/01/saat-santri-bicara-hermeunetik-dulu.html' title=''/><author><name>Banani Bahrul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11906858142906089911</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://photos1.blogger.com/img/270/3462/320/Img_0047.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry></feed>
